Belajar Otodidak, Pak Samin Mampu Hasilkan Anyaman Bambu Berkualitas

Di tangan seorang pengrajin, bilah-bilah bambu bisa menjadi karya yang bernilai. Salah satunya adalah Pak Samin, yang bertempat tinggal di Gunungputri, Kabupaten Bogor. Ia seorang mantan buruh bangunan yang kini mengandalkan keahliannya dalam menganyam bambu sambil mengisi waktu. 

“Awalnya buruh, pernah kerja bangunan juga. Berhubung sekarang kondisi sudah tua, kalo kerja bangunan ga bisa. Daripada menganggur makannya ngadain kerajinan seperti ini,” ujar Pak Samin pada (7/2/25).

Pak Samin mengaku, dirinya belajar menganyam secara otodidak bermodalkan produk yang dibeli atau sampel. Walaupun awalnya sering gagal, dirinya tidak menyerah dan terus mencoba sampai bahan anyaman tersebut menjadi sebuah produk.

“Awalnya belajar sendiri dari sampel. Beli yang udah jadi terus niru yang udah jadi. Kalo salah coba lagi sampai ketemu,” ujarnya.

Proses pembuatan produk dari anyaman bambu ini juga masih dilakukan secara manual tanpa melibatkan mesin. Pak Samin memproduksi barang sesuai pesanan dan memberi kebebasan bagi pelanggan untuk meminta produk ataupun ukuran sesuai kebutuhan. 

Beberapa produk yang dihasilkan antara lain, tetampah, kipas, dan kukusan. Bahkan, Kepala Desa setempat pernah memesan kipas berukuran kecil. 

Langkah pertama dalam proses pembuatan produk dari anyaman bambu ini adalah pemotongan bambu tanpa ada ruas atau perbatasan. Bambu yang digunakan pun tidak sembarangan, menggunakan bambu jenis tali.

Setelah itu, bambu di belah menggunakan pisau sedikit demi sedikit menjadi bahan anyaman. Kemudian, bahan yang sudah jadi akan diserut agar halus, rata, dan bersih dari sisa-sisa. 

Selanjutnya, bahan dianyam dan diikat menggunakan tali. Saat mengikat, harus menggunakan alat penjepit agar memudahhkan dalam menekan dan tali pun ditarik menggunakan tang.

Biasanya, Pak Samin menghasilkan 3 produk kipas berukuran kecil dalam sehari. Berbeda dengan tampah, Pak Samin hanya bisa menghasilkan 1 produk dalam sehari karena memakan banyak waktu.  

Keunggulam dari produk-produk ini yaitu menggunakan bahan bambu tali. Produk yang dihasilkan juga lebih kuat, awet, dan detail. Sangat berbeda dengan produk yang dijual di pasar.

“Keunggulan produknya ini lebih kuat ikatan talinya. Lebih detail, lebih awet, dan lebih rapih juga juga. Berbeda dengan yang dari pasar,” ujarnya.

Harga produk yang ditawarkan juga sangat terjangkau. Kipas berukuran kecil seharga Rp5.000, tetampah ukuran kecil seharga Rp 20.000, ukuran sedang seharga Rp 20.000, ukuran besar seharga Rp 30.000. Sementara untuk kukusan dijual dengan harga Rp 15.000.

Menurut Pak Samin, kunci utama menjadi seorang pengrajin anyaman bambu adalah kesenangan.

“Harus seneng dulu, kalo ga seneng ga bisa,” terangnya. 

Pak Samin juga berharap bisa membeli mesin untuk membantu meringankan pekerjaannya dan mampu menghasilkan lebih banyak produk yang bervariasi untuk ke depannya.

REPORTER: Venda Oktavioni