Berhasil Dilirik Konsumen Eropa dan Asia: Hentoro Jaket Kulit Tawarkan Kulitas Bahan Terbaik

Toko Hentoro Jaket Kulit yang berlokasi di Margonda, Kota Depok.

Hentoro Jaket Kulit, bisnis milik Jumantoro yang berdiri sejak 2003. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ini telah menggaet konsumen nasional dan internasional. Hal itu berkat produk yang dibuatnya berkualitas terbaik sehingga dilirik oleh konsumen yang berasal dari negara baik Eropa ataupun Asia.

Saat awal berdiri, Jumantoro menyediakan berbagai produk busana, seperti tas, sabuk, dompet, dan sebagainya. “Waktu 2005, pernah dapat pesanan 8000 jaket sintetis yang dipesan oleh Honda Bintang Motor,” tutur Jumantoro saat diwawancarai Temumkm.com melalui telepon, Senin, (24/2/2025).

Perjalanan Ekspor Hentoro Jaket Kulit ke Mancanegara 

Pada 2008, Jumantoro mulai mengerucutkan bisnisnya dengan hanya memproduksi jaket kulit saja. Jumantoro yang tergabung dalam komunitas UMKM Depok kerap mendapatkan tawaran melalui komunitas tersebut, seperti memamerkan produknya di acara perayaan ulang tahun Jakarta, Jakarta Fair. Bahkan, Hentoro Jaket Kulit pernah mendapat penghargaan sepuluh UMKM Depok terbaik.

Dari sana lah keberadaan Hentoro Jaket Kulit mulai banyak dicari. Rata-rata mereka mendapatkan informasi soal keberadaan Jumantoro menjajakan produknya itu setelah menanyakan kepada para anggota komunitas tersebut.

“Saya sebenarnya melakukan ekspor secara tidak langsung. Jadi, mereka datang ke sini memesan langsung untuk dibawa ke Belanda, Korea, Jepang, dan Malaysia,” sebutnya.

Pada proses ekspor itu tidak ada kendala tertentu yang dialaminya. Ia mengaku, tidak terlalu terpengaruh dengan regulasi, kurs mata uang, atau ekspedisi saat mengirim barang ke konsumen mancanegara. 

“Pokoknya kami jual sesuai harga di Indonesia saja, kualitasnya pun sama tak ada perbedaan dengan konsumen lokal. Kami serahkan pada konsumen di sana, justru mereka merasa produk saya terlalu murah,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Kunci Kesuksesan Bisnis Hentoro Jaket Kulit

Jumantoro berprinsip mengutamakan kualitas, hal itu menjadi kunci dari kesuksesan usahanya. Bahkan, menurutnya, UMKM ini tak perlu berada di tempat ramai lalu-lalang manusia sebab pembeli akan lebih senang melihat proses produksi secara langsung. Dengan begitu, dirinya berhasil mendapat rata-rata jumlah pembeliannya sekitar 15-20 buah per bulan.

“Bahan baku sudah saya pilih yang terbaik dengan 70-80% kulit asli kambing, sapi, bison, atau kangguru. Kemudian, saya pilih YKK untuk ritsleting dan furing konsisten dengan bahan adem,” kata Jumantoro.

Tantangan Hentoro Jaket Kulit buat Tutup 4 Cabang Kiosnya

Di samping keberhasilannya, tantangan bisnis turut menghantam Hentoro Jaket Kulit. Tantangan itu berupa sulitnya memperkenalkan produk lebih luas lagi dengan pasar yang relevan, pendanaan yang terhalang BI checking, serta kurangnya pemahaman bisnis di dunia digital

Apalagi, Hentoro Jaket Kulit sempat mengalami kemunduran di era pandemi Covid-19. Dampaknya, membuat empat cabang yang berlokasi di Jakarta dan Depok tutup, sehingga Jumantoro hanya berfokus di kios utamanya di Margonda, Depok. 

Tak dapat dipungkiri, Jumantoro juga masih memerlukan peran pemerintah agar bisa mengatasi masalah UMKM-nya. Ia berharap, pemerintah bisa menyebarkan literasi UMKM lebih luas. Selain itu regulasi yang pro-UMKM pun perlu diperhatikan lagi.

“Dulu, saya kira Presiden Prabowo bakal hapus hutang untuk seluruh UMKM, ternyata hanya sektor tertentu saja. Saya ingin pengajuan pinjaman, tapi terhalang BI checking. Padahal, masalah itu dikarenakan waktu dulu saya membelikan motor untuk operasional bisnis karyawan, namun dibawa kabur,” sesal Jumantoro.

Selama ini Jumantoro berhasil bertahan dengan melakukan strategi menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Caranya dengan menyediakan jasa reparasi dan perawatan jaket kulit ataupun menawarkan produknya kembali.

“Kami juga prioritaskan kepercayaan konsumen dengan produksi tepat waktu sesuai perjanjian yang disepakati. Selain itu, kami menawarkan ukuran custom sesuai ukuran yang dipesan konsumen,” jelasnya.

REPORTER: Febria Adha