Brand Tas Rajut Besutan Mahasiswa IPB: ‘Crochelia’ Didirikan dengan Modal Awal Rp 50 Ribu

Siapa sangka, dari sebuah hobi sederhana yang lahir di masa pandemi, seorang mahasiswa bernama Cattleya Az Zahra berhasil membangun Crochelia, sebuah usaha fashion berbasis rajutan yang kini mulai dikenal luas. Dengan produk-produk kreatif seperti tas rajut, headband, bunga rajut, gantungan kunci, hingga boneka, Crochelia menjadi bukti bahwa sebuah impian dapat dirajut dari kerja keras dan kreativitas tanpa batas.

Pandemi membawa Cattleya pada pertemuan tak terduga dengan dunia crochet. Dengan modal hanya Rp50 ribu untuk membeli alat dan bahan, ia belajar merajut secara otodidak melalui video di YouTube. Namun, keterbatasan dana menjadi tantangan besar baginya. “Saat pandemi, aku nggak punya uang jajan untuk beli benang, tapi aku pengen banget lanjut ngerajut,” cerita Cattleya. Dari keterdesakan itu, ia mulai menjual hasil rajutannya untuk membeli bahan baru, hingga akhirnya terpikir untuk membangun usaha kecil dari hobinya ini.

Pada awal 2023, setelah mengatasi rasa malu dan takut akan pandangan orang lain, Cattleya memutuskan meluncurkan produknya di bawah nama Crochelia. Nama ini adalah gabungan dari “crochet” dan namanya sendiri, “Cattleya”. Konsep utama Crochelia adalah membuat barang-barang rajut yang wearable dan fungsional “Aku ingin memberikan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang bisa dipakai sehari-hari,” ujarnya tentang konsep utama produk.

Produk untuk Semua Segmen

Produk Crochelia memiliki beragam kategori yang disesuaikan dengan target pasar. Untuk lingkungan kampus, ia menjual gantungan kunci, boneka kecil, dan bunga rajut dengan harga terjangkau mulai dari Rp15 ribu. Sementara itu, untuk pasar di luar kampus, ia menawarkan tas rajut dan aksesori dengan harga mulai Rp75 ribu hingga Rp200 ribu. Pelanggan juga dapat memesan produk secara custom, yang memungkinkan mereka mendapatkan desain sesuai keinginan.

Selain itu, Crochelia pernah mendapatkan pesanan khusus dari sebuah peternakan untuk membuat gantungan kunci berbentuk daun clover sebagai simbol keberuntungan. Order pertama tersebut mencapai 120 buah, sebuah langkah besar untuk usaha yang baru saja dimulai.

Mengatasi Tantangan: Dari Produksi Hingga Pemasaran

Perjalanan Crochelia tentu tak bebas dari tantangan. Awalnya, Cattleya mengelola segalanya sendiri dari produksi, keuangan, hingga pemasaran. Namun, seiring bertambahnya pesanan, ia membentuk tim kecil dari teman-temannya yang masih satu kampus. Untuk produksi besar, Crochelia kini bekerja sama dengan mitra ibu-ibu perajut di Cibanteng yang sudah berpengalaman. “Kalau dulu aku sama temanku cuma bisa bikin empat bunga sebulan, sekarang dengan ibu-ibu mitra, produksi bisa mencapai puluhan bahkan ratusan per bulan,” kata Cattleya.

Meski begitu, menemukan bahan baku berkualitas tetap menjadi tantangan, terutama untuk produk seperti Chunky Bag. Dulu, bahan terbaik hanya bisa didapat dari Lombok dengan harga mahal dan ongkos kirim tinggi. Namun, pada 2024, Crochelia berhasil mendapatkan pendanaan melalui Program Penguatan Kapasitas Mahasiswa Wirausaha (P2MW), yang memberikan bantuan dana sebesar Rp18,5 juta. Dana ini digunakan untuk membeli bahan baku dalam jumlah besar, sehingga lebih hemat dan efisien.

Strategi Pemasaran yang Kreatif

Crochelia mengandalkan media sosial seperti Instagram (@crochelia.co) dan Shopee sebagai kanal utama pemasarannya. Selain itu, Cattleya juga aktif mengikuti bazar kampus dan memanfaatkan promosi dari mulut ke mulut. Ia juga membuka kelas workshop rajut yang bekerja sama dengan berbagai merek besar seperti OMG. “Workshop ini nggak cuma buat jualan, tapi juga jadi cara untuk mengenalkan crochet ke generasi muda,” jelasnya.

Cattleya juga pintar memanfaatkan momen seperti Valentine dengan membuat katalog khusus untuk hadiah. Salah satu strateginya adalah layanan pengiriman langsung ke penerima sebagai bentuk secret admirer. “Karena produk kami ini lebih sering dijadikan hadiah, jadi aku selalu memanfaatkan momen-momen spesial untuk meningkatkan penjualan,” tambahnya.

Ciri Khas dan Impian yang Terus Dirajut

Meski sudah memiliki berbagai produk, Cattleya merasa Crochelia belum sepenuhnya memiliki ciri khas yang menonjol. Namun, ia terus bereksperimen dengan desain yang girly dan warna-warna terang untuk menarik perhatian pasar muda. “Aku pengen orang tahu kalau rajutan itu nggak cuma buat ibu-ibu, tapi bisa lucu dan funky juga,” katanya.

Ke depan, Cattleya berencana meluncurkan DIY Kit yang berisi alat, benang, dan panduan tutorial merajut. Produk ini diharapkan dapat masuk ke toko buku dan memberikan pengalaman merajut langsung kepada pelanggan. Selain itu, ia juga bermimpi memperluas pasar dengan membuka bazar di mal dan menulis buku panduan merajut.

Crochelia bukan hanya tentang produk fashion, tetapi juga tentang semangat, kerja keras, dan keberanian untuk bermimpi besar. Dari sebuah hobi di masa pandemi hingga menjadi usaha yang memiliki tim dan mitra produksi, Cattleya membuktikan bahwa tidak ada batasan untuk berkreasi.

Meski perjalanan Crochelia penuh tantangan, Cattleya terus melangkah dengan optimisme tinggi. Ia membuktikan bahwa dari sebuah hobi, kita bisa menciptakan peluang dan membangun bisnis yang bermanfaat.Siapa sangka, dari sebuah hobi sederhana yang lahir di masa pandemi, seorang mahasiswa bernama Cattleya Az Zahra berhasil membangun Crochelia, sebuah usaha fashion berbasis rajutan yang kini mulai dikenal luas.

Dengan produk-produk kreatif seperti tas rajut, headband, bunga rajut, gantungan kunci, hingga boneka, Crochelia menjadi bukti bahwa sebuah impian dapat dirajut dari kerja keras dan kreativitas tanpa batas.

Meski perjalanan Crochelia penuh tantangan, Cattleya akan terus melangkah dengan optimis tinggi. Ia membuktikan bahwa dari sebuah hobi, kita bisa menciptakan peluang dan membangun bisnis yang bermanfaat.

REPORTER: Vini Putri