D’Chobyan Keripik Pisang Kepok: Dari Warung Kecil hingga Sukses Raup Omzet Belasan Juta

Kemasan produk Keripik Pisang D’Chobyan yang kini tersedia dalam berbagai varian rasa. (Foto: Venda Oktavioni)

D’Chobyan Keripik Pisang Kepok adalah salah satu contoh nyata kesuksesan sebuah usaha kecil yang berkembang pesat dengan tekad dan inovasi. Berawal dari sebuah keinginan untuk mencari aktivitas setelah berhenti bekerja, D’Chobyan Keripik Pisang Kepok kini telah menjadi brand keripik pisang yang dikenal luas, bahkan telah hadir di 19 toko AEON Mall di wilayah Jabodetabek.

Cerita perjalanan D’Chobyan Keripik Pisang Kepok dimulai pada tahun 2017. Awalnya, Ibu Siti Sangidah, selaku pemilik usaha merasa bosan setelah berhenti bekerja. Akhirnya, Ia mencoba untuk membuka usaha dengan membuat peyek dan keripik pisang. Seiring  berjalannya waktu, Ia memutuskan untuk fokus pada keripik pisang karena dirasa lebih mudah dan tidak terlalu menguras tenaga.

“Dulu saya kerja, terus anak sama suami ga izinin saya kerja lagi, jadi saya ngundurin diri. Selang beberapa bulan itu saya ngerasa bosen karena di rumah ga ada kegiatan. Akhirnya coba-coba bikin usaha, awalnya peyek sama keripik pisang. Tapi akhirnya milih fokus di keripik pisang karena ga terlalu cape,” ujar Ibu Siti Sangidah pada (1/2/25).

Dahulu, Ibu Siti Sangidah menjual Keripik Pisang Kepok dari warung ke warung dengan harga Rp 2.000. Di samping itu, Ia juga mengikuti grup UMKM, sehingga bisa bertemu dengan banyak orang.

“Dari warung ke warung yang harganya Rp 2.000, terus ikut grup UMKM, akhirnya bisa ketemu orang banyak. Kita diajak keluar dalam artian ga di lingkup Gunungputri aja. Ikut pelatihan juga dari dinas, akhirnya kita bisa memahami legalitas itu penting. Dari yang tadinya di warung-warung, karena udah ada legalitas jadi bisa ke toko-toko,” ujarnya.

Kini, usaha D’Chobyan Keripik Pisang Kepok dapat menghasilkan omzet sekitar 18 juta per bulan, dengan penjualan 300 bal keripik pisang setiap tiga hari. Keripik pisang D’Chobyan tersedia dalam tiga jenis kemasan, mulai dari kemasan batal, standing pouch transparan, dan premium. Harganya pun berbeda-beda tergantung dari kemasan. 

Untuk kemasan premium seharga Rp 15.000 untuk 110 gram dan kemasan transparan seharga Rp 14.000 untuk 130 gram. Setiap dua minggu sekali, mereka mengirimkan sekitar 20 bal ke agen atau toko. Selain itu, produk ini juga bisa dipesan melalui platform online seperti Instagram, WhatsApp

Tak hanya soal distribusi, Ibu Siti Sangidah terus berinovasi dalam hal rasa. Walaupun rasa original masih menjadi best seller, D’Chobyan Keripik Pisang Kepok kini menawarkan berbagai varian rasa, seperti keju manis, coklat, dan manis caramel. Ia juga berencana untuk menambah varian rasa baru, seperti rujak. 

Keripik pisang ini menggunakan bahan baku pisang kepok yang dipilih dengan hati-hati. 

“Tidak semua pisang bisa digunakan, ada usia dan kriteria tertentu. Pisang yang digunakan harus berusia 6 bulan ke atas, karena hasilnya lebih maksimal, lebih renyah dan rasanya lebih enak,” ujarnya. 

Kualitas bahan baku yang terjamin ini menjadi salah satu keunggulan D’Chobyan Keripik Pisang Kepok yang membuatnya berbeda dari kompetitor. 

Bahkan, menurut Bupati dan Kepala Desa, rasa keripik pisang dari D’Chobyan memang berbeda. Tidak hanya itu, setiap tiga bulan sekali, keripik pisang ini dikirim ke Korea untuk tetangganya yang kini sudah menikah dengan orang Korea dan tinggal disana.

Ibu Sangidah berharap usahanya ini lebih maju sehingga bisa membuat brandnya lebih dikenal masyarakat luas. Ia juga berharap bisa memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

Reporter Temumkm : Venda Oktavioni