
Di tengah maraknya tren makanan modern, ada satu sajian tradisional yang masih bertahan dan terus dicari oleh banyak orang: Es Loder. Minuman segar dengan isian bubur sumsum hijau, candil, pacar cina, santan, gula merah, serta susu kental manis ini tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satu penjaja Es Loder yang setia menjaga kelezatan kuliner khas ini adalah Iyan, seorang pedagang keliling yang berjualan di daerah Cilendek hingga Yasmin, Bogor.
Dari Pegawai Warung ke Penjaja Es Loder
Perjalanan Iyan dalam dunia kuliner bukanlah sesuatu yang instan. Sebelum memutuskan untuk meneruskan usaha Es Loder milik keluarganya, ia lebih dulu bekerja di berbagai tempat, mulai dari toko kelontong hingga kedai bakso. Namun, pada tahun 2020, ia akhirnya mengambil alih usaha Es Loder yang sebelumnya dikelola oleh sang ayah.
“Sebenarnya usaha ini sudah ada sejak lama, dari bapak saya. Saya cuma melanjutkan saja. Awalnya ragu, tapi setelah dijalani ternyata peminatnya masih banyak,” ujar Iyan.
Setiap hari, Iyan berkeliling membawa gerobaknya, menawarkan Es Loder ke pelanggan setianya. Ia memulai dari Cilendek, kemudian berpindah ke Yasmin sektor 7, hingga akhirnya menetap di sekitar Taman Yasmin. Rata-rata dalam sehari, ia bisa menjual hingga 200 porsi Es Loder.
Rasa Tradisional yang Tetap Dicari
Meskipun banyak makanan dan minuman kekinian bermunculan, Es Loder tetap memiliki daya tariknya sendiri. Tekstur lembut bubur sumsum, kenyalnya candil, serta manis gurih perpaduan santan dan gula merah menciptakan harmoni rasa yang sulit dilupakan.
“Setiap kali lewat, banyak yang bilang kalau Es Loder ini mengingatkan mereka pada masa kecil. Ada juga pelanggan yang bilang susah cari penjual Es Loder sekarang,” kata Iyan sambil melayani pembeli.
Dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp 5.000 per porsi, Es Loder buatan Iyan tidak hanya menyegarkan, tetapi juga menjadi nostalgia bagi banyak orang.
Bertahan di Tengah Persaingan
Tidak dapat dipungkiri, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Iyan adalah persaingan dengan berbagai jajanan modern yang terus bermunculan. Dari bubble tea hingga es kopi kekinian, minuman-minuman baru selalu menarik perhatian pelanggan.
Namun, Iyan tetap optimis. “Saya yakin selama masih ada yang suka, saya akan tetap berjualan. Justru semakin jarang yang jual Es Loder, semakin banyak orang yang cari,” tuturnya.
Selain berjualan keliling, Iyan juga menerima pesanan dalam jumlah besar untuk berbagai acara. Strategi ini membantunya untuk tetap bertahan dan mendapatkan pelanggan baru.
Melestarikan Kuliner Khas dengan Semangat
Es Loder bukan sekadar minuman pelepas dahaga, tetapi juga bagian dari warisan kuliner yang patut dijaga. Usaha Iyan dalam mempertahankan bisnis keluarga ini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Di tengah gempuran makanan dan minuman modern, Es Loder tetap bertahan. Dan selama masih ada orang seperti Iyan yang setia menjajakannya, tradisi ini tidak akan hilang begitu saja.
Jadi, jika suatu hari Anda mendengar teriakan “Es Loder, Es Loder!” di sekitar Yasmin, jangan ragu untuk mencicipinya. Sensasi manis, gurih, dan segarnya akan membawa Anda kembali ke kenangan masa kecil yang penuh nostalgia.
Reporter Temumkm : Vini Putri




