
Membangun bisnis dari nol bukanlah perkara mudah, apalagi bagi Dinda, CEO dan Founder Jenthik, yang memulai usahanya tanpa modal uang pribadi. Berkat kegigihan, kreativitas, dan kecintaannya terhadap fashion berkelanjutan, Jenthik kini tumbuh menjadi brand yang memproduksi tas, obi belt, hingga pouch dengan sentuhan unik: memadukan jeans bekas dan batik, warisan budaya Indonesia.
Jenthik berdiri pada Juli 2022, tetapi kisah di baliknya dimulai jauh sebelum itu. Sejak dulu, Dinda memang hobi menjahit. Awalnya, ia hanya belajar dari bahan sisa karena sering melakukan kesalahan. “Namanya juga belajar, pasti banyak salahnya. Jadi, aku pikir mending pakai bahan bekas aja,” ujar Dinda. Salah satu bahan yang sering ia gunakan adalah jeans. Dari situ, Dinda berhasil membuat tas, topi, dan produk lainnya. Sejak itu, ia bercita-cita suatu hari ingin memiliki bisnis yang fokus pada upcycle jeans bekas.
Momen itu tiba saat Dinda mengikuti program Pekan Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) di kampusnya, Institut Pertanian Bogor (IPB). Berkat dana dari program tersebut, ia merealisasikan impiannya tanpa modal pribadi. “Dari situ aku mulai seriusin bisnis ini,” tambahnya.
Jeans dan Batik: Filosofi di Balik Nama Jenthik
Nama Jenthik sendiri merupakan singkatan dari jeans dan batik. Ide ini muncul karena Dinda ingin menciptakan produk yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga melestarikan budaya Indonesia. “Indonesia punya batik yang kaya. Kenapa nggak kita gabungkan saja dengan jeans bekas?” jelasnya.
Dalam produksi, Jenthik bekerja sama dengan tenaga kerja dari keluarga dekat untuk proses menjahit “Ini juga salah satu caraku membuka lapangan pekerjaan untuk keluarga dekat yang membutuhkan,” ujarnya. Sementara itu, Dinda dan tim bertanggung jawab atas desain serta pemilihan bahan.
Hingga kini, Jenthik memiliki sekitar 18 variasi produk yang dipasarkan secara online melalui Instagram (@jenthik.idn) dan Shopee, serta offline melalui pameran dan sistem konsinyasi dengan dua toko di Yogyakarta. Produk best-seller-nya adalah obi belt dengan dua model yaitu tali dan kancing, serta Daisy Bag, tote bag yang cocok untuk anak kuliah. Harga produknya bervariasi, dari pouch kecil seharga Rp50.000 hingga tas seharga Rp700.000.
Bank Jeans dan Kolaborasi dengan Komunitas
Pada awalnya, Dinda mencari jeans bekas di pasar loak seperti Pasar Senen. Namun, ia menyadari bahwa langkah itu kurang berdampak besar pada misinya mengurangi limbah masyarakat. Akhirnya, ia membentuk Bank Jeans, di mana orang bisa menukarkan jeans bekas mereka dengan uang. Satu kilogram jeans dihargai antara Rp10.000 hingga Rp20.000, tergantung kondisinya.
Namun, tantangan muncul ketika Dinda pindah ke Bali. Sistem Bank Jeans hanya bisa dilakukan di area tempat ia berada. Solusinya, Dinda bekerja sama dengan empat komunitas lokal di Jakarta, Depok, Bogor, dan Tangerang. “Orang-orang bisa menyumbangkan jeans bekas mereka ke komunitas itu, dan aku yang menanggung ongkirnya. Uangnya disalurkan untuk operasional komunitas,” katanya.
Membangun Bisnis Berbasis Keberlanjutan
Sebagai mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia di IPB, Dinda terinspirasi untuk menjalankan bisnis yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Ia ingin memanfaatkan jeans bekas yang sering dibuang atau dibakar untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. “Walaupun langkahku kecil, aku percaya setiap langkah kecil tetap berarti,” ujar Dinda penuh semangat.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Perjalanan membangun Jenthik tentu tidak selalu mulus. Tantangan terbesar datang dari kesibukannya sebagai mahasiswa. Ketika masih kuliah, Dinda harus pandai mengatur waktu. “Untungnya, saat ikut pameran INACRAFT aku sedang menyusun skripsi, jadi jadwalnya lebih fleksibel,” kenangnya.
Setelah lulus, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi. Tanpa jam kerja tetap, Dinda harus mendisiplinkan diri. Ia menetapkan jam kerja sendiri dari pukul 08.00 hingga 16.00 dan memastikan selalu ada yang dikerjakan setiap harinya.
Di tengah segala tantangan, dukungan dari sang ibu dan teman-teman terdekat membuat Dinda terus melangkah. “Tanggapan mereka bikin aku nggak mau berhenti. Mereka bilang bisnis ini bagus dan punya potensi,” kata Dinda.
Meski keluarganya sempat meragukan pilihannya menjadi pengusaha, Dinda tetap teguh pada pendiriannya. “Kalau aku jadi karyawan, yang bahagia cuma aku. Tapi kalau aku berbisnis, aku bisa membantu orang lain juga,” tegasnya.
Rencana Ekspansi ke Bali
Ke depan, Dinda berencana membuka toko di Bali, mengingat Bali adalah destinasi wisata internasional yang ramai. Ia ingin membuat toko yang tidak hanya menjual produk Jenthik tetapi juga menawarkan pengalaman wisata edukasi, di mana pelanggan bisa melihat langsung proses produksi.
Dalam jangka pendek, Dinda fokus memperluas konsinyasi dengan toko-toko di Bali serta mengikuti lebih banyak pameran. Ia berharap suatu saat Jenthik bisa menjadi oleh-oleh khas dari Indonesia yang dicari wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
“Semoga Jenthik bisa terus berkembang dan memberi manfaat, baik untuk lingkungan maupun orang-orang di sekitar,” pungkasnya.
REPORTER: Vini Putri




