Kerupuk Rambak Jawa: Camilan Rumahan dengan Omzet Puluhan Juta

Kerupuk Rambak Jawa kini menjadi salah satu camilan favorit masyarakat di Desa Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Cita Rasa yang khas dan tekstur yang renyah berhasil mencuri perhatian banyak orang. 

Kerupuk Rambak Jawa  ini bukan hanya sekadar makanan ringan, tetapi juga sebuah kisah perjuangan dan keberhasilan yang menginspirasi, terutama bagi para pelaku usaha kecil menengah (UMKM).

Awal Mula Perjalanan Usaha Kerupuk Rambak Jawa

Ibu Yatini, sosok di balik suksesnya Kerupuk Rambak Jawa ini memulai usahanya pada tahun 2019. Dengan tekad dan kerja keras, Ia memulai usaha ini dari nol dengan mengolah kerupuk mentah yang didapat dari Jawa lalu digoreng sendiri. Ia juga memasarkan produknya melalui status WhatsApp dan menawarkannya pada teman-teman. 

Perlahan namun pasti, Kerupuk Rambak Jawa ini mulai diminati banyak orang. Terbukti dari penjualan yang saat itu bisa mencapai 30 hingga 50 kilogram. Melihat potensi yang besar ini, Bu Yatini memutuskan untuk mendirikan pabrik kerupuk sebagai tempat produksi dan juga pembelajaran.

“Kerupuk Rambak itu saya awali tahun 2019, saya merintis bikin pabriknya bikin workshop nya lah ya sebagai tempat belajar. Langsung tuh pendemi, ketika pandemi yang lain gulung tikar, aku ambil lah lebih naik lagi ratingnya, orang-orang kan ga boleh keluar ya, tapi kita nganter-nganter pakai masker,” terang Bu Yatini kepada Tim Temumkm (28/1/25).

“Kenapa berani bikin pabrik, karena dulu saya ngambil dari Jawa, naik bus sekitar sepuluh kilo digoreng sendiri terus dipasarkan, dibuat status juga, akhirnya mencapai 30 hingga 50 kilo yang artinya produk ini diminati banyak orang. Daripada saya dari Jawa harus paketin akhirnya bikin PT dan cari orang yang punya skill,” tambahnya.

Apa Keunggulan Kerupuk Rambak Jawa?

Kerupuk Rambak Jawa memiliki beberapa keunggulan yang membedakannya dari produk serupa di pasaran. Salah satunya adalah penggunaan minyak goreng yang baru setiap kali produksi untuk menjaga kualitas dan cita rasa. 

Selain itu, banyak pelanggan yang  memberikan testimoni bahwa kerupuk ini tidak menyebabkan batuk setelah dikonsumsi.  

“Kalo keunggulan dari punya saya ini setiap testimoni-testimoni ada yang beli itu tidak batuk, karena memang dari orang-orang dinas  sudah kenal semua, anak-anak yang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sini juga menjual ke dosen dan ke temen kampus. Saya juga pakai minyaknya baru terus,” ujarnya.

Dengan harga Rp40.000 per kilogram, masyarakat sudah bisa merasakan kelezatan Kerupuk Rambak Jawa ini. Pemasaran produk Kerupuk Rambak Jawa ini dilakukan mulai dari rumah tangga, pasar, mall, warung makan, hingga café. 

Tak hanya itu, Bu Yatini juga telah mengikuti berbagai pelatihan seperti pelatihan digital marketing hingga mengikuti acara bazar, event, atau pameran yang diadakan dari dinas untuk memasarkan produknya. 

Saat ini, Kerupuk Rambak Jawa telah memiliki legalitas usaha seperti sertifikasi halal dan sebagainya sehingga dapat memperkuat kepercayaan konsumen.

Pemasaran secara digital juga menjadi fokus utama Bu Yatini, seperti media sosial Instagram dan TikTok. Hingga saat ini, Bu Yatini sudah memiliki sekitar 90 reseller. Dengan ketepatan waktu dan tanggungjawab dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, Ia berhasil menjaga loyalitas pembeli.  

“Media sosial itu yang utama, karena sekarang kalo kita ga ikut media sosial ketinggalan. Terutama di Instagram dan TikTok yang saya lagi booming banget. Reseller saya juga datang dari TikTok,” ujarnya.

Berawal dari modal awal sebesar Rp200 juta, kini usaha Kerupuk Rambak Jawa berhasil mencapai omzet Rp40 hingga Rp50 juta per bulan dan kapasitas produksinya pun telah meningkat pesat, mencapai 1,5 ton per bulan.  

Harapan Ke Depan

Di samping kesuksesan usaha Kerupuk Rambak Jawa ini, Bu Yatini juga menghadapi beberapa tantangan, salah satunya terkait strategi pemasaran. Ia berharap bisa mengikuti lebih banyak pelatihan pemasaran untuk meningkatkan strategi bisnisnya. 

“Aku pengen dicarikan atau pelatihan-pelatihan pemasaran,” ungkapnya

“Pemasaran tuh saya paling susah jujur aja, karena kompetitor itu lawan. Kalo pelatihan yang lain saya udah seperti higienis, branding, dan packaging,” tambahnya

Selain itu, Bu Yatini juga berharap bisa memperluas jangkauan pasar supaya produk Kerupuk Rambak Jawa ini lebih dikenal oleh masyarakat luas.

“Kedepannya pengen lebih banyak market ya, lebih banyak pemasaran saya itu meluas. Orang bisa mengenal produk saya. Itu aja sih keinginannya, bisa dikenal luas masyarakat,” ujarnya.

Harapan Bu Yatini untuk menjangkau pasar yang lebih luas adalah bukti semangatnya untuk terus maju. Kerupuk Rambak Jawa tidak hanya menjadi camilan yang digemari, tetapi juga simbol perjuangan dan keberhasilan dari usaha kecil yang dikelola dengan tekun. 

Kisah Bu Yatini memberikan pelajaran berharga bahwa tidak ada kesuksesan yang instan, semua membutuhkan proses dan kerja keras.

Reporter Temumkm : Venda Oktaviani