
Menghadapi persaingan ketat dalam menjual roti kopi, seorang pria bernama Bachtiar, yang merupakan pemilik Leroetie, terpaksa harus menghentikan operasionalnya akibat angka penjualan yang rendah. Leroetie sendiri adalah sebuah brand roti yang didirikan olehnya pada tahun 2021.
Dalam situasi itu Bachtiar tak tinggal diam, ia terus memutar otaknya mencari cara menangani masalah tersebut. Dengan kemampuan membuat roti yang dimilikinya, ia memutuskan mengadakan kelas baking eksklusif untuk menginisiasi krisis tersebut.
”Saat itu saya kesulitan mengenalkan produk ini kepada calon konsumen. Ditambah bahan baku yang terus melonjak setiap harinya. Sehingga dengan berat hati saya harus menghentikan dulu operasional Leroetie dan mengadakan kelas,” ujar Bachtiar kepada Temumkm.com, Senin (24/02/2025).
Pemilihan langkah ini tidak serta-merta. Selain berbagi ilmu dan mencari keuntungan demi keberlangsungan hidup, kelas ini juga menjadi sarana efektif untuk mengenalkan produk Leroetie kepada masyarakat luas, dengan materi yang menyisipkan informasi soal Leroetie.
“Pelatihan roti kopi yang kami adakan ini sangat eksklusif, hanya 10 sampai 15 orang saja perkelas, sehingga peserta dapat belajar intensif dan mendapatkan bimbingan yang personal,” tutur Bachtiar.
Dalam kelas ini, peserta diajarkan mulai dari cara menimbang takaran adonan roti yang benar, teknik baking yang tepat, hingga cara menghitung Harga Pokok Produksi (HPP). Kelas yang diadakan setiap bulan itu menjadi modal kembalinya operasional Leroetie.
Pada tahun 2023 ia kembali memulai operasional Leroetie dengan konsep lebih sederhana yang hanya fokus memproduksi roti kopi saja. Saat itu roti kopi sendiri tengah hype di pasaran menjadi hidangan yang memiliki daya tarik.
“Akhirnya saya memilih roti kopi, yang sedang laku di pasaran,” ujar Bachtiar.
Bachtiar mulainya dengan mendistribusikan roti kopi buatannya itu ke kedai kopi kecil milik adiknya yang baru dibuka sambil berjualan secara keliling.
Fokus memproduksi roti kopi membuat Bachtiar lebih efisien melakukannya, baik itu dalam produksi atau pemasaran. Ia dapat mengontrol kualitas bahan baku dan memastikan produknya selalu segar saat sampai ke pelanggan.
“Fokus satu produk & menghemat bahan baku yg otomatis menghemat pengeluaran. karena semakin banyak varian juga semakin besar pengeluaran membeli bahan bakunya.” Ungkapnya.
Yang membedakan Leroetie dari roti kopi lainnya adalah rasanya yang tidak terlalu manis, sehingga cocok bagi mereka yang tidak terlalu menyukai makanan dengan rasa manis tinggi.
Selain itu, harga roti kopi Leroetie juga lebih terjangkau dibandingkan dengan roti kopi lainnya di pasaran. Dengan kisaran harga antara Rp5.000 hingga Rp7.000 per pcs, konsumen dapat menikmati roti kopi lezat.
Varian rasa yang ditawarkan pun beragam, mulai dari klasik seperti butter, coklat, dan keju, hingga rasa kombinasi seperti coklat keju. Untuk varian keju, Leroetie menghadirkan topping vanila yang lembut dan manis, memberikan sentuhan berbeda.
Kini Bachtiar memiliki dua sumber penghasilan, yakni penjualan roti kopi dan kelas baking sehingga berdampak positif pada omzetnya. Setiap bulannya, omzet yang dihasilkan dari penjualan roti kopi dan kelas baking berkisar antara Rp18.500.000 hingga Rp20.000.000.
Berkat penghasilan yang menunjang, kini ia memiliki toko yang dapat dikunjungi langsung oleh konsumen. Toko tersebut berlokasi di Jl. Belimbing V AF No. 10-11, Kota Baru, Bekasi. Namun jika enggan mendatangi toko secara langsung, pemesanan dapat dilakukan dengan menghubunginya melalui aplikasi perpesanan.
Demi meningkatkan kepercayaan pelanggan, Leroetie telah berbadan hukum dan menyelesaikan sertifikasi. Seperti sertifikat halal, yang menjamin bahwa seluruh proses produksi dan bahan baku yang digunakan sesuai dengan standar kehalalan yang ditetapkan. Serta Nomor Induk Berusaha (NIB), yang menunjukkan bahwa usaha ini telah terdaftar secara resmi dan memenuhi persyaratan legalitas yang berlaku.
REPORTER: Restu Wahyu




