Laur Art Hasilkan Rp 5 Juta Dalam Sehari, Jual Aksesoris Berbahan Dasar Tembaga Bekas

Tembaga yang dulunya dianggap hanya sebagai logam biasa kini berkilau dalam bentuk perhiasan. Keunikan itu berkat sentuhan kreatif pengrajin berbakat. 

Salah satu pengrajin yang karyanya harus diapresiasi adalah Laura Emilia. Ia memanfaatkan tembaga berkualitas dan limbah daur ulang untuk menciptakan perhiasan serta dekorasi rumah yang berdaya jual tinggi.

Laura memulai usaha bernama Laur Art sejak tahun 2012 yang berlokasi di Perum Bogor River Side blok D No.10 RT.01 Rw.19 Kel.katulampa Kec Bogor Timur. Awalnya, ia membuat aksesoris untuk kebutuhan pribadi saat masih bekerja sebagai pegawai. Namun, melihat antusiasme rekan-rekannya yang tertarik ketika menggunakannya, ia pun mulai menjual hasil karyanya tersebut.

Dirinya mendirikan usaha Laur Art yang menghadirkan berbagai perhiasan seperti gelang, kalung, anting, bros, dan peniti dagu. Selain itu, limbah yang diolah kembali juga dikreasikan menjadi dekorasi rumah serta aksesoris unik lainnya. Produk best seller dari Laur Art adalah bros dan peniti dagu.

Keunggulan produk Laur Art terletak pada kualitas dan daya tahannya. Seperti peniti dagu yang telah lolos kurasi Kementerian Perdagangan dan Industri RI. Pengujian lolos atau tidaknya barang tersebut melalui pengolahan secara direndam selama tiga bulan untuk memastikan produk tersebut tidak mudah berkarat.

Tak cukup sampai di sana, Laur Art juga memberikan garansi selama satu tahun bagi pelanggannya, sehingga dapat meningkatkan kredibilitas untuk para pelanggan dan mendapatkan pelayanan terbaik.

“Biasanya customer yang beli di aku ada garansi untuk 1 tahun. Ada testimoni juga dari pelanggan produknya ga mudah berkarat dan ga putus,” ujar Laura pada (19/2/25).

Laura juga selalu memberikan edukasi terkait produk yang dibeli kepada custamer. Hal ini gencar dilakukan agar para pelanggan mengetahui seperti apa cara merawat aksesoris tersebut.

“Ada edukasi produk juga, setiap gelang ada edukasi pemakaian dan cara penyimpanan,” ujarnya.

Dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp10.000 untuk peniti dagu dan bros hingga Rp800.000 untuk kalung, Laur Art berhasil menarik perhatian pasar. Produk-produk ini lebih sering dipasarkan secara offline melalui bazar dan pameran, dengan rata-rata omzet harian mencapai Rp5.000.000 dan penjualan hingga 25 pcs per hari.

Laura berharap usaha ini bisa terus berlanjut dan ada generasi berikutnya yang meneruskan Laur Art agar tetap berkembang dan memberikan manfaat lebih luas.

REPORTER: Venda Oktavioni