
Berbicara mengenai kerajinan tangan memang tidak ada habisnya. Di tangan para pengrajin berbakat, bahan sederhana bisa disulap menjadi karya yang bernilai tinggi. Seperti yang dilakukan oleh Elina Fitriani, seorang pengusaha kerajinan dengan merek bernama Reisya Flanel, yang telah menekuni usaha kerajinan dari kain flanel sejak tahun 2015.
Inspirasi usaha ini bermula dari ulang tahun anaknya yang pertama. Saat itu, Elina membuat celengan karakter kartun sebagai suvenir ulang tahun. Tidak disangka, orang yang datang pada acara tersebut tertarik dan mulai memesan karya Elina.
Reisya Flanel menawarkan berbagai produk hasil kerajinan tangan seperti bantal flanel, gantungan kunci, buket, kotak tisu, hingga bando rubo.
Produk-produk buatan Elina ini memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam segi kerapian jahitan, karena semuanya dibuat dengan tangan tanpa menggunakan mesin.
“Keunggulan dari produk saya yaitu dari kerapihan jahitan karena produk saya di buat asli jahitan tangan tidak memakai mesin,” ujar Elina pada (15/2/25).
Hal ini tentu menjadi nilai tambah yang membuat Reisya Flanel memiliki tempat tersendiri di hati para pelanggan.
Harga produknya pun bervariasi, mulai dari Rp3.000 sampai Rp 10.000 untuk bros dan gantungan kunci, harganya Rp 50.000 sampai Rp150.000, bantal flanel harganya Rp 25.000, sedangkan bando flanel dan celengan harganya Rp 50.000, kotak tisu dan buket uang harganya mulai dari Rp 35.000 tergantung banyak lembar uang.
Produk kerajinan tangan Elina yang paling banyak diminati pelanggan adalah bando Rubo. Dalam sehari, Elina bisa menjual 3 hingga 5 bando rubo.
“Untuk penjualan sehari bisa 3 atau 5 bando gimana barang-barangnya sih, kalo untuk buket ga banyak tapi pasti ada aja yang pesennya,” ujarnya.
Meskipun omzetnya tidak menentu karena bersifat musiman, ia bisa meraih pendapatan minimal Rp500.000 hingga lebih dari Rp2.000.000 per bulan.
“Kalo di tanya tentang omzet itu ga tentu ya karena usaha saya bisa di bilang musiman. Tapi kalo omzet penjualan minimal Rp 500.000 per bulan dan maksimal bisa Rp 2.000.000 lebih per bulan,” ujarnya.
Namun, bukan tanpa kendala. Modal dan keterbatasan tenaga kerja menjadi tantangan tersendiri, terutama saat pesanan sedang tinggi. Oleh karena itu, Elina berharap bisa mendapatkan pelatihan dalam mengatur keuangan agar bisnisnya lebih stabil dan berkembang.
Ke depan, ia berharap semakin banyak orang, terutama anak muda dan ibu-ibu, yang tertarik dengan produk handmade. Dengan begitu, bukan hanya bisnisnya yang berkembang, tetapi juga bisa membuka peluang usaha bagi orang-orang di sekitarnya.
REPORTER: Venda Oktavioni




