
Di era modern, fashion bukan sekadar soal gaya, melainkan juga cara mengekspresikan identitas dan budaya. Melihat peluang tersebut, Tarish, pendiri Melookal, berinisiatif mengangkat budaya Indonesia ke dalam fashion yang lebih relevan bagi generasi muda. Berawal dari keresahannya terhadap batik yang terkesan terlalu formal dan sulit dipadupadankan, Tarish mendirikan Melookal pada Agustus 2023.
Bersama Melookal Menjadikan Budaya Lebih Fun dan Kekinian
Dari ide sederhana, lahirlah inovasi: bagaimana jika budaya Indonesia dikemas dalam fashion yang lebih fun dan mudah digunakan sehari-hari? “Aku sebenarnya suka banget fashion, tapi kalau pakai batik rasanya formal banget. Jadi, kepikiran bagaimana cara membuat batik terlihat lebih anak muda dan bisa di-mix and match,” cerita Tarish. Bersama temannya, ia merintis Melookal dengan modal awal hanya Rp 2 juta. Namun, keterbatasan modal tidak menghalangi mereka untuk menciptakan produk fashion berkualitas.
Produk pertama Melookal adalah obi belt dan scarf bertema Bali. Setiap desain scarf menghadirkan cerita khas Bali, seperti motif Pantai Sanur dan tarian tradisional. Sementara itu, obi belt dibuat dengan konsep berkelanjutan, memanfaatkan kain sisa produksi sehingga setiap produk eksklusif dan terbatas. “Aku waktu itu cuma bisa bikin satu lusin karena kainnya memang stok lama dan jumlahnya terbatas,” jelas Tarish. Keunikan inilah yang menjadikan produk Melookal memiliki daya tarik tersendiri.
Perjalanan Penuh Tantangan dan Vakum Sementara
Sejak awal berdiri, Melookal berkembang pesat, terutama melalui pameran dan bazar yang sering mereka ikuti di lingkungan kampus IPB. Keaktifan di platform digital seperti TikTok dan Instagram (@me.lookal) juga membantu mereka menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, perjalanan mereka tidak selalu mulus.
Pada Juni 2024, Melookal sempat vakum selama enam bulan karena timnya—yang masih berstatus mahasiswa—harus fokus pada studi, termasuk Tarish yang menjalani program pertukaran pelajar ke luar negeri. Mereka kembali aktif pada Januari 2025 dengan konsep dan semangat baru.
“Kita rebranding jadi lebih minimalis, supaya produknya bisa dipakai sehari-hari. Tetap ada unsur budaya Indonesia, tapi lebih simpel,” ungkap Tarish. Jika sebelumnya desain Melookal banyak mengangkat tema Bali yang penuh warna, kini mereka memperluas cakupan budaya Nusantara dengan desain yang lebih modern dan minimalis, menyesuaikan tren saat ini.
Lebih dari Sekadar Jualan, Melookal Ajak Pelanggan Berkarya
Keunikan Melookal tidak hanya pada produknya, tetapi juga pengalaman yang mereka tawarkan di setiap bazar. Booth Melookal sering kali menjadi tempat interaksi kreatif, di mana pelanggan bisa mencoba membuat desain fashion mereka sendiri menggunakan kain batik yang disediakan. “Kita ingin pelanggan ikut terlibat dan merasakan pengalaman membuat desain mereka sendiri. Setengah pameran, setengah aktivitas kreatif,” tambah Tarish.
Target Pasar dan Harapan ke Depan
Melookal menargetkan perempuan berusia 20–35 tahun yang menyukai fashion dengan sentuhan budaya lokal. Harga produk Melookal cukup terjangkau, berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. “Ke depannya, kami ingin terus mengusung fashion minimalis yang tetap memperkenalkan budaya Indonesia, tapi lebih modern dan bisa dipakai setiap hari,” ujar Tarish penuh semangat. Harapannya, Melookal bisa terus berkembang hingga menembus pasar internasional.
Pesan untuk Pengusaha Muda
Sebagai pengusaha muda, Tarish memahami bahwa perjalanan bisnis selalu penuh tantangan. Ia berpesan kepada generasi muda yang ingin memulai usaha agar tidak mudah menyerah. “Setiap pilihan karir pasti ada tantangannya. Kalian hanya harus memilih tantangan yang mau kalian perjuangkan dan tetap menikmatinya. Jadikan setiap hambatan sebagai sarana belajar dan berkembang,” tutupnya.
Dengan semangat dan kreativitas yang terus menyala, Melookal siap melangkah lebih jauh untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia melalui fashion modern yang timeless dan bermakna.
REPORTER: Vini Putri




