
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengajak Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), untuk lebih aktif mendekati pelaku UMKM. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan pendampingan guna membantu komersialisasi produk lokal.
“Saya juga mengajak HIPMI agar semakin dekat dengan para pegiat ekonomi kreatif, terutama yang punya potensi untuk mendapatkan HaKI, bisa mengomersialisasikan kekayaan intelektualnya,” ujar Riefky dalam acara Indonesia Go Globalyang diselenggarakan HIPMI Culinary Indonesia (HCI) di Jakarta, Rabu (12/3/2025)
Menurutnya, masih banyak anggota asosiasi seperti HIPMI di daerah yang menunggu pendampingan serta bantuan dari pemerintah daerah. Oleh karena itu, ia meminta HIPMI untuk turun langsung merangkul pelaku UMKM di berbagai wilayah. Agar mereka dapat mengembangkan potensi yang bisa menjadi investasi menguntungkan.
Pendampingan ini dapat mencakup edukasi tentang pengelolaan keuangan maupun strategi pengembangan bisnis. Riefky juga menekankan bahwa ekonomi kreatif dapat berperan dalam diplomasi internasional. Terutama dalam sektor kuliner melalui konsep gastro-diplomasi.
“Ekonomi kreatif ini juga sebagai alat untuk diplomasi atau gastro-diplomasi kalau dalam hal ini, dalam kuliner. Kami melihat peluang yang besar, sinergi HIPMI, para pengusaha kuliner, kemudian dari badan halal, kemudian ekonomi kreatif, nanti juga mungkin dengan UMKM, Kementerian Pariwisata dan sebagainya, kita bisa sama-sama membangkitkan, menyumbangkan pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen, terutama dari ekonomi kreatif,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Kementerian Ekraf telah berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah. Hal ini dilakukan untuk mendukung sektor ekraf di berbagai wilayah.
Diharapkan, dengan adanya dinas ekonomi kreatif di daerah, pendampingan yang diberikan tidak hanya sebatas diskusi atau penyusunan proposal, tetapi juga dapat membuka lapangan kerja baru.
“Saya memiliki keyakinan penuh bahwa para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia mampu bersaing dan berprestasi di kancah internasional. Jadi mari sama-sama dari berbagai macam potensi yang ada, dari subsektor ekonomi kreatif, 17 subsektor memang tidak mungkin semua secara serentak kita dorong sekaligus, bergantian. Salah satu yang menjadi prioritas untuk 5 tahun ke depan adalah kuliner,” kata Riefky.
Ia berharap kesadaran pelaku bisnis terhadap peluang ekspansi global. Dapat didukung oleh kemitraan erat antara pemerintah, pengusaha, dan investor. Sehingga dapat membuka akses yang lebih luas bagi merek makanan dan minuman (F&B) lokal ke pasar internasional.
Selain itu, meningkatnya investasi dan ekspor di sektor ini juga akan berkontribusi pada pertumbuhan devisa negara serta meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap ekonomi kreatif Indonesia.
Dilansir dari antaranews.com




