
Di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat, Nasi Goreng Pade Bude tetap teguh berdiri di Kp. Muhara, Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Usaha Nasi Goreng Pade Bude ini berdiri sejak tahun 2007 dengan rasa yang tak berubah sejak pertama kali buka.
Nasi Goreng Pade Bude menawarkan sajian nasi goreng dengan kualitas rasa yang konsisten. Menurut Ibu Pur, selaku pemilik dari usaha ini mengatakan bahwa penggunaan nama tersebut dipilih agar mudah dicari dan dipahami oleh pelanggan.
“Biar gampang dipahami atau dicari, jadi namanya Nasi Goreng Pade Bude,” ujar Bu Pur pada (30/1/25).
Ibu Pur dan sang suami memulai usaha nasi Goreng Pade Bude ini dengan pertimbangan sederhana. Mereka menganggap bahwa berjualan nasi goreng memiliki modal yang ringan dan tidak membutuhkan tenaga yang terlalu besar.
“Kenapa jualan nasi goreng, pertama, modalnya agak ringan, kedua tenaganya juga ga terlalu gede,” ujarnya.
Usaha Nasi Goreng Pade Bude juga pernah bergabung dengan layanan pesan antar Grabfood, tetapi seringkali mengalami kendala. Terkadang ada pesanan yang masuk, tetapi setelah makanan sudah siap, tidak ada driver yang mengambilnya. Kemungkinan karena sudah terlalu malam, dan hal ini membuat Ibu Pur terpaksa menutup layanan online tersebut.
Dahulu, usaha ini berkembang dengan baik. Bahkan bisa menghabiskan sekitar 6 sampai 7 kilogram telur. Namun, kini persaingan di bisnis nasi goreng semakin ketat dan perekonomian juga semakin sulit, sehingga penjualan pun menurun.
“Dulu bisa habis 6 sampai 7 kilogram telur sehari. Sekarang beli telur 2 kilogram bisa buat besok lagi. Kalah saingan gitu, dulu disini cuma saya doang sekarang ada banyak saingan,” ujarnya.
Meskipun begitu, Ibu Pur selalu menjaga kualitas rasa nasi gorengnya agar tetap enak dan konsisten dari waktu ke waktu. Hal tersebut menjadi salah satu yang bisa membedakan dari nasi goreng lain.
“Kalo untuk rasa ga berubah dari dulu, dari mana-mana juga udah kenal. Ahamdulillah ada nilainya, cuma karena mungkin kalah saing juga. Kalo rasa alhamdulillah enak,” ungkapya.
Selain persaingan yang semakin ketat, usaha Nasi Goreng Pade Bude juga menghadapi tantangan dalam hal harga bahan baku yang terus naik.
“Kalo sembako udah naik terus yang ada kita bingung, gimana caranya mau ambil untung. Kalo harga sembako turun masih mending ada pemasukan,” ujarnya.
Untuk harga satu porsi nasi goreng sebesar Rp 15.000, sedangkan untuk nasi goreng dengan double telur, pelanggan hanya perlu membayar Rp 20.000.
Omzet harian Nasi Goreng Pade Bude kini memang tidak menentu. Dalam seminggu, omzetnya hanya mencapai sekitar Rp 400.000. Meski demikian, Ia tetap bersyukur karena usaha ini masih bisa bertahan meskipun di tengah situasi ekonomi yang sulit.
Ibu Pur memiliki harapan yang besar untuk masa depan usahanya. Ia berharap usaha Nasi Goreng Pade Bude ini bisa terus maju dan menjangkau pelanggan yang lebih luas.
Ibu Pur juga berharap bisa mendapatkan tambahan modal untuk membeli peralatan yang lebih baik, seperti wajan yang lebih awet.
Meski usahanya masih kecil dan terkadang tidak stabil, Ibu Pur tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan dan keluarga. Ia berharap, usaha Nasi Goreng Pade Bude bisa memberikan keuntungan yang cukup untuk masa depannya bersama sang suami. Nasi Goreng Pade Bude adalah contoh kecil dari banyak usaha yang bertahan di tengah kesulitan ekonomi.
Reporter Temumkm : Venda Oktavioni




