
Amerika Serikat terus menjadi pasar ekspor dominan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menurut data terbaru dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY. Namun, kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan oleh pemerintah AS turut memberi tekanan pada pelaku ekspor, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut.
Tarif Impor AS Menjadi Beban Ekspor DIY
Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, mengungkapkan bahwa tarif bea masuk sebesar 32 persen yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap produk Indonesia berdampak langsung terhadap performa ekspor DIY. Sebab, lebih dari 43 persen total ekspor daerah ini mengalir ke pasar AS.
“Amerika merupakan mitra dagang utama kami. Kenaikan tarif impor tentu membuat produk DIY menjadi kurang kompetitif di pasar sana,” jelas Yuna pada Sabtu (5/4).
Produk yang paling banyak dikirim ke Negeri Paman Sam antara lain kerajinan dari anyaman, produk berbahan kertas, barang dari kulit, pakaian jadi, hingga furnitur dan olahan seperti gula semut.
Meski menghadapi tantangan tersebut, data menunjukkan tren positif. Nilai ekspor DIY ke AS pada 2023 mencapai USD 212,33 juta, dan naik menjadi USD 236,25 juta di tahun 2024. Bahkan, untuk Januari 2025 saja, nilai ekspor ke Amerika tercatat sebesar USD 17,43 juta menurut rilis BPS DIY.
Langkah Strategis: Penguatan Daya Saing dan Diversifikasi Pasar
Disperindag DIY merespons tantangan ini dengan memperkuat kapasitas UMKM melalui pelatihan, pembinaan, dan kerja sama lintas sektor. Tujuannya agar pelaku usaha lokal bisa meningkatkan kualitas produk dan bersaing di pasar global.
“Kami aktif menjalin sinergi dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk mendorong masyarakat lebih mencintai produk lokal,” ujar Yuna.
Sebagai bagian dari strategi diversifikasi, DIY juga membidik negara lain seperti Jepang dan Jerman yang menjadi pasar potensial setelah Amerika. Pada Januari 2025, ekspor DIY ke Jerman tercatat sebesar USD 4,82 juta dan ke Jepang mencapai USD 3,58 juta. Negara-negara di Asia dan Uni Emirat Arab (UAE) pun menjadi target pengembangan pasar selanjutnya.
Meski demikian, Yuna menegaskan bahwa AS masih tetap menjadi pasar penting. “Amerika masih membuka peluang besar, namun kami tidak bisa bergantung hanya pada satu negara. Kita harus adaptif,” tandasnya.
Dilansir dari Kumparan.com




